"Kau tampak lebih baik!" katanya smbari menatapi wajahku. aku hanya tersenyum semu dan tak sekatapun terlontar dr bibirku.
"kau sudah melupkannya?"tanyanya. Bibirku gemetar tapi aku tetp tak menjawab.
" Apa yang membuatt air matamu tak menetes lagi?" tanyanya kembali. aku hanya menunduk.
"kau nampak seperti rembulan yg tak tertutupi lagi kabut malam.. tp tak bersinar! tambahnya lagi.
Lalu aku menatap wajahnya dengan sedikit senyuman. "hmm... bukan tak bersinar, tapi belum" ungkapku pelan.
"Aku percaya kau bsa! aku tak mngenalmu seperti pohon yg mudah tumbang sàat angin topan menerpa. Bagi ku kau butterfly yg selalu tersenyum riang mesti kau slalu menerbangkan kedua sayapmu sendri."katanya sembari membelai rambutku.
Tak lama setelah itu ku peluk tubuhnya erat, sangat erat sembari berkata, "Kepedihan ini menyadarkan ku akan satu hal yang sangat berharga." dan lalu ia tersnyum,
" Benarkah? lantas apa yg bsa kau simpulkan tentang cinta saat ini?" Tanyanya.
" The poisonous honey" jawabku. Ia melepskan pelukanku dan bertanya lagi, "lalu apa yg bisa membuat kau merasakañya lagi tanpa takut teracuni?"
Sembari tersenyum, jwabku " Kini aku paham, aku tk ingin dan tak akan mencintai sesamaku lagi jika itu bukan karenanya, Tuhan kita!" ia memandangiku dengan sangat serius, lalu ia bertanya lagi "Apa yang membuatmu yakin untuk menggeneralisasikan problema cintamu seperti itu?"
Aku memandanginya tajam, lalu ku jawab " Karena cnta yang hakiki itu cinta yang datang dari Tuhan, dan hanya untuknya. Sedang cnta yang bukan karena Tuhan itu hanyalah nafsu!"
Lalu ia memegang kedua pipiku, ia tatap kedua bola mataku yang berkaca-kaca dengan tatapannya yang berbinar. " Kini kau telah menjadi rembulan yang bersinar!"
By Dhea
No comments:
Post a Comment